Quick Tip
|
Jika Anda naik pesawat dengan anak usia 1 tahun, mintalah kursi tepat di balik dinding pemisah antar kabin sehingga si kecil leluasa bergerak. |
|
|
Ternyata, cara kelahiran berdampak pada kondisi daya tahan tubuh bayi. Jangan khawatir, ada solusi untuk memompa sistem imunitas jika si bayi memang harus lahir caesar.
Delapan puluh persen sel yang memproduksi antibodi berada di dalam saluran cerna. Karena itu, saluran cerna merupakan organ imunitas terbesar pada tubuh. Bakteri baik, bakteri oportunis, dan bakteri patogen, hidup berdampingan di dalam saluran cerna dan membentuk mikroflora. Mikroflora saluran cerna tersebut punya peran penting dalam sistem daya tahan tubuh selain peran lain yaitu membantu produksi beberapa jenis vitamin.
Banyak faktor yang memengaruhi pembentukan mikroflora saluran cerna. Bayi yang diberi ASI dan non-ASI akan memiliki kondisi mikroflora yang berbeda. Faktor lain yang berpengaruh terhadap pembentukan mikroflora saluran cerna bayi adalah usia kelahiran (prematur atau cukup bulan), pemberian antibiotik, kondisi lingkungan tempat tinggal bayi, dan cara kelahiran. Lahir normal atau caesar ternyata membawa dampak pada pembentukan mikroflora saluran cerna yang artinya memengaruhi sistem daya tahan tubuh bayi.
Kondisi Bayi Lahir Caesar Persentase bayi lahir caesar meningkat sepanjang tahun. Kecenderungan itu terjadi di negara maju maupun di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Banyak alasan yang membuat ibu memutuskan untuk melahirkan bayi dengan metode caesar, misalnya karena kondisi medis ibu dan bayi.
Terkait dengan sistem imunitas, komposisi mikroflora bayi lahir caesar berbeda dengan bayi lahir normal. “Pada proses kelahiran normal, terjadi paparan bakteri dari ibu kepada bayi, misalnya melalui vagina dan feses,” kata Dr. Jeanne Roos Tikoalu, SpA, spesialis anak dari RS Puri Indah, Jakarta. Bakteri yang “dikenalkan” ibu tersebut sangat beragam sehingga bayi memiliki kesempatan untuk melakukan kontak dengan bakteri baik, bakteri oportunis, dan bakteri patogen, sejak usia yang masih sangat dini. Hasilnya, sistem daya tahan tubuh bayi lahir normal akan terstimulasi dengan baik.
Sementara pada bayi lahir caesar, bayi tidak berkesempatan untuk melakukan kontak dengan bakteri-bakteri yang dimiliki sang ibu. Bayi hanya mengandalkan kontak dengan bakteri di lingkungan sekitar yang kebanyakan tergolong bakteri patogen, jarang sekali ada bakteri baik. Proses kelahiran itu otomatis menurunkan paparan bakteri di masa awal kehidupan yang berdampak pada komposisi mikroflora saluran cerna bayi.
Pada saluran cerna yang sehat, jenis dan jumlah bakteri baik (probiotik) lebih banyak dbandingkan dengan jenis dan jumlah bakteri patogen. Penelitian oleh Gronlund MM et al tahun 1999 menunjukkan bahwa terjadi penundaan laju kolonisasi bakteri baik jenis bifidobakteria di dalam saluran cerna bayi yang lahir secara caesar. Kolonisasi bifidobakteria terlihat pada delapan puluh persen bayi lahir normal di usia 3 hari. Sementara, untuk usia yang sama, kurang dari empat puluh persen bayi lahir caesar yang mengalami kolonisasi bifidobakteria pada saluran cernanya. Penelitian yang sama membuktikan bahwa laju kolonisasi bakteri patogen jenis clostridium lebih tinggi pada bayi lahir caesar. Semakin banyak jenis bakteri clostridium maka risiko terserang diare semakin tinggi. Komposisi clostridium tinggi dan bifidobakteria rendah membuat bayi rentan terhadap infeksi saluran cerna dan risiko alergi. Studi lanjutan di AS oleh Salam M et al pada 2006 bahkan menunjukkan peningkatan risiko asma, demam jerami, alergi, dan infeksi saluran pernapasan, pada anak berusia 8-17 tahun yang dilahirkan secara caesar. Dan berbagai penelitian lain menghubungkan kelahiran caesar dengan penundaan laju koloniasasi bifidobakteria yang menyebabkan tingginya pertumbuhan bakteri merugikan dan respons daya tahan tubuh pascakelahiran yang abnormal.
Penelitian menunjukkan, perlu waktu enam bulan untuk mengejar ketertinggalan pembentukan sistem imunitas pada bayi lahir caesar.
Solusi Bagi Bayi Lahir Caesar Apapun kondisinya, setiap bayi terlahir istimewa. Ketika metode caesar harus ditempuh dalam proses kelahiran, masih ada cara untuk meningkatkan kolonisasi bifidobakteria demi mengoptimalkan sistem daya tahan tubuh bayi. Cara paling jitu adalah melalui pemberian ASI yang punya peran penting dalam pembentukan mikroflora usus pada bayi. Selain itu, kandungan nutrisi pada ASI memiliki efek bifidogenik yaitu suasana yang disukai bifidobakteria untuk memperbanyak diri. Tidak hanya punya efek bifidogenik, ASI itu sendiri mengandung probiotik. Penelitian oleh Harmsen HJM et al pada tahun 2000 menunjukkan dominasi bifidobakteria pada saluran cerna bayi yang mendapat ASI.
“Namun seringkali, ibu yang menjalani operasi caesar tidak siap melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) karena timbul stres akibat operasi. Karena merasa stres, ibu tidak menikmati IMD dan hasilnya si bayi juga ikut rewel,” kata Dr. Jeanne. Karena itu, ibu perlu pemahaman yang baik tentang ASI dan IMD yang sangat penting bagi bayi—juga ibu. Selain itu, tambah Dr. Jeanne, ibu juga perlu menjaga kondisi kesehatan agar tidak terjadi komplikasi persalinan saat melahirkan secara caesar sehingga IMD bisa dilakukan dan bayi mendapatkan haknya yaitu ASI.
Mungkin Anda bertanya, “Bagaimana jika bayi lahir caesar tidak bisa mendapat ASI dari sang ibu karena berbagai alasan?” Ternyata, masih ada jalan keluar bagi kondisi tersebut. Ada dua strategi yang dapat dilakukan ibu untuk mengejar ketinggalan pembentukan saluran cerna sehat pada bayi lahir caesar. Strategi pertama adalah member asupan nutrisi yang membentuk kondisi optimal bagi pertumbuhan probiotik jenis bifidobakteria dan lactobacilli di dalam saluran cerna. Atau dengan kata lain, memberikan suplementasi yang mempunyai efek bifidogenik. Asupan nutrisi yang member efek bifidogenik punya karakter tinggi laktosa, rendah fosfat, dan rendah protein tapi tetap sesuai dengan kebutuhan protein bayi.
Strategi kedua adalah memberikan probiotik jika memang kondisi saluran cerna bayi lahir caesar hanya punya bakteri baik dalam jumlah sedikit. Pemberian probiotik terbukti membentuk mikroflora saluran cerna yang lebih sehat pada bayi. Kondisi mikroflora saluran cerna yang didominasi bakteri baik akan berdampak pada peningkatan sistem daya tahan tubuh, mengurangi kejadian diare, serta mengurangi gejala alergi. Tidak hanya menurunkan angka kejadian diare, pemberian probiotik juga menurunkan jumlah hari dengan diare yang dialami bayi. Sebuah penelitian oleh Chouraqui JP et al pada 2004 menyatakan, bayi yang diberi suplementasi probiotik mengalami diare selama 1 hari, sementara bayi yang tidak diberi probiotik mengalami diare selama 2,3 hari.
Dominasi bakteri baik di dalam saluran cerna menjadi salah satu kunci sistem daya tahan tubuh optimal. Tapi tidak semua bayi memiliki kesempatan untuk membentuk kolonisasi mikroflora saluran cerna yang didominasi bifidobakteria. Namun Anda tidak perlu berkecil hati. Melalui intervensi nutrisi dan pemberian probiotik, niscaya bayi lahir caesar akan memiliki imunitas prima. Jadi, ketika bayi harus lahir melalui metode caesar, Anda tetap bisa memberi yang terbaik bagi si buah hati.
|
|
|
|
|
|