Satu bayi cantik telah lahir. Berjuta kekhawatiran muncul. Selamat datang di dunia orang tua. Tentu Anda ingin melindungi bayi dari penyakit atau luka, tapi seberapa jauh perlindungan Anda berikan? Pakar kami memberi saran agar bayi Anda tetap aman –dan Anda tetap waras.
Ketika bayi pertama saya, Mathilda, lahir, saya sontak menjadi gugup. Saya merasa bahaya mengintai dimanapun. Saya dan suami, Tony, mengamankan semua fasilitas di rumah, mulai dari dudukan toilet sampai kompor. Saya tidak pernah tidur lebih dari 45 menit karena baru sebentar saja membaringkan Mathilda, saya terbangun dan mendatangi boks bayinya, meletakkan tangan saya di dada kecil dia untuk memastikan bayi saya masih bernapas. Pikiran saya dipenuhi rasa takut dan khawatir: Bagaimana jika saya menjatuhkan dia? Bagaimana jika dia terserang pneumonia? Bagaimana jika ternyata saya adalah ibu yang lemah?
Di luar ketakukan kronik saya, Mathilda tumbuh sehat sempurna dan normal –seperti dua adiknya. Menengok ke belakang, saya melihat bahwa tindakan saya terhadap bayi pertama benar-benar konyol. Tapi apa boleh buat jika Anda memang merasakan kekhawatiran seorang ibu baru atau hal-hal lain yang lebih melelahkan –paranoia tanpa batas hingga nyaris gila? Apakah mungkin seorang ibu menjadi terlalu protektif? Kami bertanya kepada pakar seputar lima kekhawatiran utama orang tua baru.
“Bayi saya bisa terserang penyakit” Anda paranoid jika… Anda mengisolasi bayi Anda yang sehat selama minggu-minggu pertama sejak kelahirannya dan Anda ingin semua tamu mengenakan masker dan sarung tangan setiap kali mereka menyentuh bayi Anda. Kenyataan: Untuk beberapa bulan pertama, antibodi Anda, yang Anda berikan melalui tali pusar, memberi perlindungan kepada bayi. ASI juga memperkuat sistem kekebalan tubuh. Anda memang tidak bisa melindungi anak dari segala jenis kuman. “Masih wajar jika bayi terserang pilek satu atau dua kali dalam satu tahun pertama kelahirannya,” kata Cathryn Tobin, MD, penulis The Parent’s Problem Solver. Strategi Pengamanan: Sebagai awalan, jangan izinkan orang yang sedang sakit untuk menggendong bayi Anda. “Mintalah teman dan anak-anak yang sedang pilek, demam, diare, atau terserang penyakit lain untuk menjenguk bayi setelah sembuh,” kata Dr. Tobin. Udara segar baik untuk bayi sehat dan normal, jadi bawalah bayi Anda berjalan-jalan di udara terbuka –tapi hindari ruang tertutup yang ramai, seperti mal dan bandara. Lalu bagaimana dengan obsesi lingkungan yang bebas kuman? “Masih terjadi debat di kalangan medik apakah hiper-higinitas menyebabkan alergi dan asma, karena jika bayi Anda sama sekali tidak terpapar kuman maka sistem imunitasnya tidak terlatih untuk melawan kuman,” kata Dr. Tobin. “Karena belum ada kesepakatan, jalan tengah adalah yang terbaik.” Cuci tangan Anda jika memang kotor –dengan air dan sabun- dan mintalah orang lain yang memegang bayi untuk melakukan hal yang sama.
“Bayi saya bisa meninggal ketika tidur” Anda paranoid jika… Anda begitu ketakutan bayi akan berhenti bernapas sehingga Anda terus-menerus memeriksa kondisinya –setiap jam, sepanjang malam. Kenyataan: Di AS, 2.300 bayi meninggal karena SIDS (sudden infant death syndrome) setiap tahun, atau sekitar 5 dari setiap 1.000 bayi. Ini adalah angka yang kecil –kurang dari 1 persen. Plus, angka itu terus turun dari 5.000-6.000 kematian sebelum 1994, sebelum kampanye Back to Sleep dilakukan, yang mendorong orang tua untuk tidak membiarkan bayi dalam posisi tengkurap ketika tidur. Sembilan puluh persen kematian akibat SIDS terjadi sebelum bayi berusia 6 bulan. Dan setelah bayi memasuki usia 1 tahun, SIDS jarang terjadi. Strategi Pengamanan: Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko SIDS, kata Laura Reno dari First Candle/SIDS Alliance. Yang terpenting, pastikan bayi Anda selalu tidur terlentang. “Penyebab utama SIDS adalah bayi menghirup lagi udara yang sudah dia hembuskan yang tidak memiliki cukup oksigen,” kata Reno. “Bayi yang tengkurap tidak bisa menggerakkan kepala dan kesulitan mendapat udara segar.” Kiat lain: Letakkan bayi di boks yang aman –dengan alas tidur, seprai nyaman, dan tidak ada benda lain (boneka, selimut, dan bumper tidak diperkenankan). Riset terbaru menyebutkan bahwa memberikan empeng ketika dia tidur akan mengurangi risiko SIDS, meskipun empeng akan jatuh dari mulut setelah tertidur lelap (Anda tidak perlu memasukkan lagi empeng ke dalam mulut bayi). Jangan biarkan bayi kepanasan karena bisa membuat tidur terlalu lelap. Dan jangan biarkan ada orang merokok di dalam rumah –menjadi perokok pasif bisa melipatgandakan risiko SIDS.
“Batita saya bisa terluka di taman bermain” Anda paranoid jika… Anda ikut kemanapun si batita berjalan layaknya agen rahasia yang selalu menjaga presiden. Tak heran kalau, sebelum anak masuk TK, dia tidak tahu cara naik perosotan sendiri. Kenyataan: Anak butuh bergerak aktif, dan taman bermain adalah tempat yang tepat untuk bergerak –berayun, berputar, memanjat, dan meluncur. Taman bermain adalah tempat sempurna untuk melatih keseimbangan dan kemampuan sosial (menunggu giliran, tidak boleh saling mendorong) dan pelepasan energi serta emosi. Namun tentu saja, kecelakaan bisa terjadi. American Academy of Pediatrics melaporkan, hampir 250.000 anak di bawah 15 tahun dirawat setiap tahun karena mengalami kecelakaan di taman bermain dan 7.500 anak di antaranya harus masuk rumah sakit. Strategi Pengamanan: Hindari jatuh parah –penyebab utama dan paling serius pada kecelakaan di taman bermain- dengan memastikan anak Anda selalu bermain dengan aman dan menggunakan fasilitas yang sesuai dengan usianya. “Taman bermain yang baru dibuka biasanya punya area bermain terpisah untuk anak di bawah 5 tahun,” kata Mike Gittelman, MD, dokter UGD spesialis anak di Cincinnati Children’s Hospital. “Dan carilah permukaan yang aman, seperti tumpukan daun-daun yang empuk, serbuk kayu, atau alas karet.” Begitu masuk taman bermain, periksa ayunan, perosotan, dan panjat-panjatan. Pastikan fasilitas tersebut terpasang dengan benar, tanpa ada bagian yang kendur. Jangan biarkan anak memakai baju dengan tali yang bisa tersangkut. Begitu anak Anda bisa berjalan, Anda bisa membicarakan soal keamanan di taman bermain dengan si kecil –jangan terburu-buru memanjat tangga perosotan, jangan melompat di jungkat-jungkit, jangan menabrak anak yang lebih besar saat sedang memanjat.
“Bayi saya bisa tenggelam” Anda paranoid jika… Anda tidak mau membawa bayi Anda ke rumah siapapun yang punya kolam renang atau kolam air hangat. Kenyataan: Tenggelam adalah bahaya besar dan insiden tragis, tapi hampir sepenuhnya bisa dihindari –dengan cara mengawasi anak setiap kali dia berada di dekat air. Jadi, tidak ada alasan menghindar dari kolam renang di rumah teman atau pantai selama anak Anda diawasi dengan benar. Pernyataan terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan, pada 2004, dari semua anak usia 1-4 tahun yang meninggal dunia, 26 persen karena tenggelam. “Anak biasanya tenggelam di kolam renang keluarga. Tapi ember, toilet, kolam air hangat, dan bathtub juga berbahaya,” kata Dr. Gittelman. Strategi Pengamanan: Air adalah tempat dimana sedikit kekhawatiran bisa dimaklumi. “Jika anak Anda di bawah 5 tahun, jangan pernah meninggalkan dia sendirian di dekat air,” kata Dr. Gittelman. Termasuk di bathtub –seorang anak bisa saja tenggelam ketika Anda menerima telepon. Pasang pengunci di dudukan toilet dan selalu tutup pintu kamar mandi. Bayi bisa tenggelam di dalam air sedalam 2,5cm, jadi jangan pernah meninggalkan ember berisi air di dalam rumah atau pekarangan, dan kosongkan kolam renang plastik anak setiap malam. Jika Anda punya kolam renang di belakang rumah, lakukan upaya pencegahan. Lingkari kolam dengan pagar setinggi 120cm dan lengkapi dengan gerbang yang tidak bisa dibuka dari luar. “Orang tua perlu belajar teknik napas buatan, dan letakkan telepon di sekitar area kolam renang. Jika anak Anda menghilang, periksa kolam pertama kali,” kata Dr. Gittelman. Saat berenang, jangan mengandalkan pelampung bayi –alat itu tidak melindungi anak dari insiden tenggelam.
“Bayi saya bisa tersedak makanan” Anda paranoid jika… Anda memotong-motong sereal untuk bayi berusia 10 bulan. Kenyataan: Sangat jarang bayi tersedak oleh makanan yang cocok untuk usianya. Menurut statistik terkini dari CDC, 58 bayi di bawah 1 tahun meninggal karena tersedak pada 2004. Tapi makanan bukan penyebab utama kematian akibat tersedak, kata Marty Belson, MD, dokter UGD spesialis anak di Children’s Healthcare of Atlanta. “Lebih dari separo disebabkan oleh benda selain makanan, seperti uang logam dan baterai. Sisanya karena makanan, seperti permen keras.” Strategi Pengamanan: Begitu anak mulai mengonsumsi makanan padat, potong makanan menjadi bagian-bagian kecil, dan pastikan makanan itu lembut secara alami dan dimasak cukup matang sehingga mudah digerus. “Jangan berikan permen karet atau makanan keras berbentuk bulat lain kepada anak di bawah 4 tahun –seperti hot dog, kacang, anggur, popcorn, potongan keju,” kata Dr. Belson. Selain itu, pastikan anak selalu duduk diam saat dia makan. Kemungkinan bayi untuk tersedak meningkat ketika dia duduk bersandar di kursi goyang atau berbaring. Jauhkan bagian-bagian mainan dan obyek kecil lain –kelereng, tutup spidol, uang logam—dari jangkauan anak. Pelajari teknik napas buatan dan cara menepuk punggung bayi yang tersedak.
|
|
|
|
|
|