Looking for U.S.A version of PARENTS.com? Click Here


Bergabung bersama kami di facebook
baby mom ad

Mengapa Ia Muntah?
Jangan takut ketika semua makanan si kecil sepertinya mendarat di baju Anda. Kami punya jawaban atas pertanyaan penting Anda. Anda tahu ceritanya: Anda menggumamkan sesuatu dan berkata ‘wah pintar’ untuk setiap hal kecil yang dilakukan bayi Anda karena, akuilah, segala yang dilakukannya betul-betul mengagumkan. Ya, hampir semuanya kecuali saat ia membuka mulut dan suapan terakhirnya tersembur keluar. Ini tak lagi lucu, terutama, karena mengenai baju favorit Anda.


Melihat begitu sering bayi memuntahkan makanan bisa jadi menakutkan bagi para orang tua baru. Kami bertanya kepada ahli anak untuk mendapatkan jawaban atas beberapa kekhawatiran yang biasa terjadi.

Bayi saya selalu meludahkan makanannya setiap selesai makan. Ada apa dengannya? Jangan khawatir semua akan baik-baik saja. Hampir setiap bayi memiliki refluks gastroesofagus (GER), biasanya disebut refluks. “Tujuh puluh persen dari bayi di bawah 3 bulan terbiasa muntah sampai 3 kali sehari, dan meski mereka muntah sampai 10-12 kali, itu masih normal,” ujar William Byrne, MD, kepala bagian gastroenterologi anak di Doernbecher Children’s Hospital di Portland, Oregon.
Alasan yang paling logis: otot di bawah esofagus, yang terbuka dan tertutup untuk membiarkan makanan masuk ke dalam perut, masih sangat lemah pada usia ini sehingga isi perut bisa dengan mudah keluar kembali. Biasanya bayi Anda akan sering muntah sesaat setelah makan, tapi bisa juga terjadi setelah ia menangis atau batuk yang terlalu kuat.

Jika susu yang diminumnya keluar lagi, apakah ia sudah merasa kenyang? Ya, bayi Anda mungkin sudah cukup kenyang. Dokter anak Anda akan memeriksa berat badannya. Jika semuanya oke, itu berarti kalori yang dibutuhkannya sudah tercukupi. Saat muntah, seolah-olah seluruh makanannya kembali lagi ke atas, tapi sebetulnya ukurannya kurang dari 1 sendok makan, ujar Dr. Byrne. Jadi jangan menambalnya lagi dengan memberikan susu jika ia muntah setelah makan. Faktanya, pemberian makan yang berlebihan bisa menimbulkan refluks lebih banyak lagi. Jika bayi Anda menolak untuk makan saat baru mulai, refluks bisa jadi penyebabnya. Sangat mungkin asam lambungnya naik ke atas kerongkongan sehingga membuat kerongkongan memerah dan bengkak. Kerongkongan yang iritasi bisa melukai, dan bisa membuat beberapa bayi malas makan. Jadi konsultasikan ini kepada dokter anak Anda jika si kecil tidak punya nafsu makan. Ia mungkin akan mendiagnosa si kecil dengan Penyakit Refluks Gastroesofagus (GERD), lihat tulisan “Keadaan Serius”.

Adakah yang bisa saya lakukan untuk menghentikan muntahnya? Tidak ada, tapi Anda bisa meminimalkan jumlahnya. Perut yang terlalu penuh bisa menjadi penyebab refluks, jadi jangan memberi makan terlalu banyak, ujar Aeri Moon, MD, seorang gastroenterolog anak dari New York. Menelan banyak udara ketika makan akan membuat gelembung gas di dalam perut yang bisa memerangkap makanan anak. Udara itu muncul kembali menjadi sendawa, disertai dengan susu atau ASI. Pastikan setiap selesai makan atau minum, Anda membuat anaka bersendawa. Ini akan membantu mengurangi muntahnya. Jika ia berusia 4 bulan atau lebih dan dokter anak mengizinkan, Anda bisa menambahkan jumlah susu formulanya sehingga makanan itu bisa masuk ke perut dengan baik (campur satu sendok makan sereal beras untuk setiap 4 ons formula). Gravitasi bisa membantu Anda menjaga makanan si kecil tetap di perutnya. Jaga si kecil tetap tegak selama 30 menit setiap habis makan sehingga makanan bisa berjalan dengan benar keluar dari lambung menuju usus halus. Kurangi muntahan di malam hari dan selama tidur dengan menaruh bantal di bawah kepalanya dengan kemiringan 30 derajat (jangan menaruh bantal tepat di bawah kepalanya untuk menghindari ia kesulitan bernapas).

Kapan fase ini berakhir? Jangan khawatir, akan datang saatnya Anda tak perlu lagi pergi ke penatu setiap habis menyuapinya. Seiring bertambah usianya, anak Anda muntah karena ia makan lebih banyak. Gejala refluks gastroesofagus cenderung menurun di usia 6 bulan, karena sistem pencernaannya juga semakin baik. Anak Anda juga mulai duduk dengan tegak dan makan makanan padat. Saat bayi berusia 12 bulan masalah ini akan berhenti, meski ada beberapa bayi yang terus muntah sampai berusia 24 bulan. Jangan terkejut jika kebiasaan muntahnya tampak memburuk saat ia mulai membaik; gejala ini muncul kembali pada beberapa bayi saat mereka mulai merangkak karena isi perut mereka seperti teraduk.


KEADAAN SERIUS
GER bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan, bahkan bayi yang paling sehat sekalipun bisa mengalaminya. Namun saat bayi menjadi bermasalah atau sakitkarena kondisi itu, masalah ini dikenali sebagai penyakit refluks gastroesofagus (GERD), sebuah kondisi yang lebih serius. Jika si bayi tak mau makan, berat badannya tidak bertambah, ia akan tersiksa, menderita karena dorongan yang keras untuk muntah atau masalah pernapasan karena tersedak makanan, dia mungkin mengalami GERD. Kondisi ini tidak bisa disembuhkan tapi bisa dirawat. Bagaimanapun, jika tes tidak mengindikasikan ia memiliki GERD, Anda harus menghindari obat-obatan. Sebuah hasil studi yang diterbitkan oleh Pediatrics  mengatakan bahwa ada pemberian obat antirefluks yang berlebihan untuk bayi yang hasil tesnya terindikasi GER, bukan GERD. Dengan begitu, pengobatan itu tidak efektif.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Cover


berlangganan

EDISI CETAK 2009
EDISI CETAK 2008
EDISI CETAK 2007

Caught On Camera

albert.jpg
GianLuigiGiuseppe.jpg

© Parents Indonesia
Mahaka Media | All Rights Reserved