Apa motivasi Anda menikah? Salah satunya tentu membentuk keluarga yang bahagia plus keturunan. Sayangnya, tidak semua pasangan mudah mendapatkan keturunan, sulit mendapatkan anak kedua, bahkan ada yang tidak berhasil mendapatkan keturunan. Kami merangkum penjelasan seputar kesuburan tersebut hanya untuk Anda.
Isu #1Hamil Setelah Menunggu Lama Pasangan yang memiliki masalah kesuburan perlu menunggu lama untuk mendengar kalimat, “Selamat, Anda hamil!” Bagi beberapa pasangan, dinyatakan positif hamil mengundang berbagai perasaan, dari suka-cita hingga rasa lega, canggung, dan kerap kali tidak percaya. Setelah beberapa bulan atau beberapa tahun menjalani pengobatan dan akhirnya hamil, ada tantangan baru yang akan Anda hadapi berikut solusi menghadapi tantangan tersebut.
Penanganan medis Pada minggu-minggu pertama kehamilan, banyak wanita yang khawatir akan kehilangan bayi, terutama jika pernah memiliki riwayat keguguran. “Jika sudah pernah keguguran lebih dari dua kali, perlu dicari penyebab keguguran tersebut, untuk menghindari kejadian serupa terulang lagi” kata penasihat Parents Indonesia Prof. DR. Dr. Med. Ali Baziad, SpOG (K). Dokter kandungan Anda, tentu saja, akan memantau kehamilan secara hati-hati melalui: Tes darah, untuk mengukur kadar progesteron dan human chorionic gonadotropin (hCG), hormon yang dikeluarkan tubuh selama kehamilan. Tes urin, untuk memeriksa sel darah merah dan sel darah putih, kadar gula, protein, bakteri, dan faktor lain yang berdampak pada kehamilan. Tes tekanan darah, untuk memeriksa jika ada perubahan drastis pada angka tekanan darah. Ultrasound, untuk memastikan janin berkembang dengan baik. Antenatal care (ANC/pemeriksaan pra-kelahiran) yang teratur sangat perlu dilakukan. Pemeriksaan infeksi dan kelainan genetik. “Pemeriksaan ini hanya diperlukan jika pasien sudah lebih dari dua kali keguguran,” kata Prof. Ali.
“Pemeriksaan ekstra perlu dilakukan jika calon ibu mengidap penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus yang perlu pengontrolan kadar gula darah, pemeriksaan tensi darah yang teliti disertai pemeriksaan kadar asam urat, protein dalam air seni dan sebagainya,” kata Dr. Andrijono, SpOG (K), spesialis ginekologi-onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Jika Anda punya keluhan, jangan ragu berkonsultasi kepada dokter. Katakan kepada dokter kandungan jika Anda mengalami sakit pada perut, kram atau kontraksi, demam atau menggigil, muntah terus-menerus, sakit saat buang air kecil, atau mengalami pendarahan. “Jika seorang wanita pernah keguguran satu atau dua kali, biasanya tidak ada masalah dengan kehamilan. Namun jika lebih dari itu, perlu ada perawatan medis ekstra,” kata Prof. Ali. Namun jika terjadi pendarahan, segera hubungi dokter. Hal itu bisa menjadi tanda kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan) atau gejala keguguran yang harus segera ditangani.
Penanganan Emosional Jika Anda pernah gagal menjalani kehamilan atau sudah menanti kelahiran bayi untuk waktu lama, mungkin sulit bagi Anda menerima kenyataan bahwa ada kehidupan yang mulai berkembang di dalam tubuh Anda. Di dalam buku The Couple's Guide to Fertility karya Gary S. Berger, MD, Marc Goldstein, MD, dan Mark Fuerst, disebutkan bahwa beberapa wanita, melindungi diri dari rasa kecewa (yang sebelumnya pernah dirasakan ketika keguguran kandungan) dengan membatasi ikatan emosional yang terlalu dalam dengan bayi di dalam kandungan. Sebagian wanita lain kerap meminpikan hal buruk terjadi pada janin. Sementara ada juga calon ibu yang belum bisa bernapas lega sebelum bayi benar-benar lahir.
Kehamilan yang sangat ditunggu besar kemungkinan membawa dampak bagi kehidupan pernikahan. Misalnya, menghindari berhubungan seksual karena khawatir aktivitas tersebut berakibat buruk terhadap janin. Calon ibu bisa juga merasa “tidak boleh” mengeluhkan ketidak nyamanan yang dirasakan selama hamil, terutama kepada pasangan, karena sudah menunggu lama untuk bisa hamil. Secara umum, perasaan tersebut wajar dialami pasangan yang sudah menunggu lama untuk memiliki momongan. Selama emosi bergolak sepanjang kehamilan, pastikan Anda dan pasangan punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, bukan hanya mengekspresikan kegembiraan melainkan rasa sakit, takut, atau khawatir. Jika dirasa perlu, Anda bisa mencari bantuan dari konselor atau terapis.
Isu #2 Sulit Hamil untuk Kedua Kali Bahkan jika Anda sudah sukses melahirkan si buah hati, bisa saja Anda memiliki masalah kesuburan setelah itu. Jika Anda satu dari sekian banyak orang yang memiliki masalah secondary infertility (sulit hamil untuk kedua kali), beberapa fakta berikut bisa membantu Anda memahami kondisi yang sedang Anda alami.
Fakta Berdasarkan National Survey of Family Growth di AS, lebih dari 1 juta pasangan berjuang untuk keluar dari secondary infertility. “Kasus seperti ini memang sering terjadi. Penyebabnya bervariasi. Yang paling sering adalah infeksi tiba-tiba yang dialami ibu dan stres yang dialami salah satu atau pasangan,” kata Prof. Ali. Selain itu, terdapat beberapa penjelasan logis, seperti istri atau suami yang tergolong subur menikah dengan orang lain yang tergolong infertil, atau pasangan tersebut sebenarnya sudah memiliki masalah kesuburan sejak kehamilan pertama. Misalnya, istri terkena endometriosis, masa ovulasi yang tidak menentu, atau terkena penyakit pada tuba falopii. Bisa juga suami mengalami penurunan konsentrasi atau kemampuan pergerakan sperma.
Penyebab lain secondary infertility adalah faktor usia. Jangka waktu lima tahun bisa sangat berpengaruh terhadap siklus kesuburan wanita dan kualitas sperma pria. Trauma pasca-melahirkan juga bisa menjadi penyebab kesulitan memiliki anak kedua atau ketiga. Pasangan yang sudah memiliki anak kerap mengabaikan masalah kesuburan, padahal kasus secondary fertility banyak terjadi. Karena itu, penting bagi pasangan untuk memeriksakan kesuburan begitu menemui kesulitan hamil untuk kedua kali.
Penanganan Penanganan sangat tergantung pada riwayat kesuburan dan kesehatan Anda dan pasangan. Dokter kandungan bisa saja langsung menyarankan Anda untuk menemui spesialis kesuburan atau melakukan serangkaian tes sebelum memutuskan jenis pengobatan. “Jika ditemukan infeksi, akan dilakukan pengobatan anti-infeksi,” kata Prof. Ali. Tahap pertama adalah memeriksa penyebab secondary infertility Anda. “Penanganan yang dilakukan berdasarkan penyebab atau kelainan yang dijumpai. Misalnya, jika dijumpai miom ataupun kista para rahim, sebaiknya dilakukan operasi pengangkatan kista ataupun miom,” kata Dr. Andrijono.
Dokter perlu memastikan produksi sel telur Anda, jumlah sperma suami, dan apakah sperma cukup kuat dan sehat untuk berenang mendekati sel telur. Secara umum, Anda akan menjalani dua jenis pemeriksaan, yaitu pemeriksaan darah dan sistem reproduksi. Tes darah, berguna untuk mengukur level progesteron (untuk memastikan siklus ovulasi), gonadotropin (memeriksa apakah Anda mengalami menopause dini), dan prolactin (hormon yang keluar saat Anda menyusui. Jika jumlah hormon ini meningkat, ada kemungkinan Anda menderita kelainan ovulasi atau tumor). Pemeriksaan sistem reproduksi. Tahap selanjutnya adalah memeriksa jika ada penyumbatan, kerusakan, atau kelainan pada sistem reproduksi Anda. Sebelum Anda menjalani pemeriksaan sel telur, akan ada screening bakteri chlamydia. “Infeksi genital menjadi penyebab paling sering gangguan kesuburan. Dan kasus infeksi karena bakteri chlamydia trachomatis termasuk yang paling banyak ditemukan,” kata Prof. Ali. Laparoskopi. Jika Anda memiliki riwayat peradangan panggul (pelvic inflammatory disease/PID), pernah mengalami hamil di luar kandungan atau endometrosis, dokter mungkin akan menawarkan laparoskopi yaitu operasi pemeriksaan yang menggunakan peralatan teleskopik untuk melihat apakah tuba falopii Anda mengalami kerusakan. Pemeriksaan untuk pria. Suami Anda juga perlu menjalani beberapa tes, yaitu tes cairan sperma dan pemeriksaan jika ada pembengkakan atau penyumbatan sistem reproduksi.
Menghitung Masa Subur | - Berdasarkan siklus haid. Cara paling sering dilakukan adalah dengan menghitung 10-16 hari setelah hari pertama haid. Hasilnya kurang akurat dan hanya bersifat perkiraan.
- Berdasarkan suhu basal tubuh. Ukur suhu basal tubuh selama tiga bulan berturut-turut dan buat rata-rata. Pengukuran suhu basal tubuh diperlukan untuk menghitung saat sel telur pecah. “Jika rata-rata telur pecah pada hari ke-12, lakukan hubungan seksual pada hari ke 11-13, itu sudah cukup. Lakukan tes di pagi hari, antara pukul 05.00-05.30 sebelum suhu tubuh memanas,” kata Prof. Ali. Penghitungan ini mudah, akurat, dan hanya memerlukan termometer suhu basal. Penghitungan masa subur menggunakan suhu basal tubuh masih jarang dilakukan oleh para ibu di Indonesia padahal metode ini sangat dianjurkan di negara maju.
|
Isu #3Menjaga Kesuburan melalui Gaya Hidup Banyak orang yang mempertaruhkan kesuburan tanpa sadar. Gaya hidup membawa pengaruh besar terhadap kesuburan. Jika Anda sangat mendambakan anak atau ingin menambah momongan suatu saat, maka mulailah menjaga kesuburan sistem reproduksi melalui gaya hidup sehat. Bahkan jika Anda tidak ingin menambah anak, tidak ada salahnya bergaya hidup sehat, bukan? Berikut tip praktis yang diambil dari buku Environment, Lifestyle, and Infertility: An Intergenerational Issue karangan Sharpe RM dan Stephen Franks, pakar pengobatan reproduksi dari Inggris.
Menjaga berat badan sehat. Hormon reproduksi pria dan wanita berkaitan erat dengan berat badan. Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), penurunan berat badan 5-10 persen pada wanita yang mengalami obesitas, meningkatkan kemungkinan hamil yang signifikan. Selain itu, wanita hamil dengan kelebihan berat badan lebih potensial mengalami keguguran dibandingkan wanita seusia dengan berat badan ideal. “Salah satu penyebab wanita sulit punya anak adalah kelebihan atau kekurangan berat badan. Dan itu sering terjadi,” Prof. Ali menambahkan. Rajin berolahraga. Olahraga adalah cara sederhana menjaga kebugaran dan kesehatan. Namun jika Anda terlalu memaksakan diri, keseimbangan hormon bisa terganggu. Sebagai pedoman, ASRM menyarankan kepada pasangan yang sedang berusaha mendapatkan anak untuk melakukan olahraga lari, namun jangan lebih dari 16 km per minggu. Makan sehat dengan gizi seimbang. Kekurangan asupan nutrisi, seperti vitamin C, seng, dan asam folat, bisa menurunkan produksi sperma pria. Wanita yang ingin cepat hamil juga disarankan mengonsumsi suplemen yang mengandung minimal 400 mikrogram asam folat, nutrisi yang bisa mengurangi risiko kegagalan kandungan, menurut Food and Drug Administration. Asam folat juga terkandung pada bahan makanan alami, seperti sayuran berdaun hijau, jeruk, dan anggur. Hindari rokok dan alkohol. Merokok bisa menurunkan jumlah sperma dan mengakibatkan impotensi. Merokok bisa berdampak pada semua aspek kesuburan wanita, mulai dari ovulasi hingga pertumbuhan embrio. Jika Anda tergolong perokok dan punya masalah dengan kesuburan, menghentikan ketergantungan terhadap rokok sebaiknya menjadi prioritas utama Anda. Sementara jurnal Nature Medicine menyebutkan, mengonsumsi alkohol lebih dari dua gelas untuk pria dan lebih dari satu gelas untuk wanita bisa menurunkan kesuburan. Menurut Federal Health Agencies, karena banyak wanita yang terlambat menyadari kehamilan, sebaiknya berhenti minum alkohol secara total karena alkohol dapat menimbulkan kerusakan permanen pada janin. Periksa kandungan obat-obatan. Beberapa jenis obat bisa mempengaruhi tingkat kesuburan. Antibiotika, pereda rasa sakit, obat penenang, dan obat hormonal tertentu bisa menurunkan kesuburan. Tanyakan kepada dokter kandungan untuk memastikan obat yang Anda konsumsi tidak membawa pengaruh buruk bagi fertilitas.
Isu #4Masalah Infertilitas Jika Anda dan pasangan sudah cukup lama bergelut dengan masalah infertilitas maupun secondary infertility, beberapa fakta dasar berikut mungkin dapat membantu Anda.
Bukan Hanya Masalah Wanita Selama ini, infertilitas dianggap sebagai masalah wanita. Sebagai gambaran, menurut data National Infertility Association di AS, 35 persen kasus infertilitas terjadi pada wanita, 35 persen terjadi pada pria, 20 persen terjadi pada pasangan, dan 10 persen tidak diketahui penyebabnya. Pasangan biasanya disarankan untuk menemui dokter jika sudah melakukan hubungan seksual tanpa alat kontrasepsi selama sekurangnya satu tahun dan istri belum dinyatakan hamil. Namun jika seorang wanita berusia di atas 30 tahun, memiliki riwayat radang panggul, sakit saat menstruasi, pernah keguguran, siklus haid tidak teratur, atau pria dengan jumlah sperma kurang, disarankan segera menemui dokter kandungan.
Jika Anda mencari referensi seputar fertilitas dari buku atau internet, jangan langsung mengambil kesimpulan. Karena bisa saja materi referensi tersebut sudah tidak up to date. Cara paling aman adalah berkonsultasi kepada dokter dan tanyakan seputar buku atau referensi lain yang bisa Anda baca.
New layer... |
|
|
|
|
|