Looking for U.S.A version of PARENTS.com? Click Here


Bergabung bersama kami di facebook
baby mom ad

Bersiap Mandiri
Jika Anda rajin menggali informasi, melakukan pendekatan dengan benar, dan menyiapkan perangkat yang tepat, mengajar anak ke kamar kecil akan menjadi jauh lebih mudah. Apakah sudah waktunya mencoba?

Jika Anda ragu seputar saat yang tepat mengajarkan anak pergi ke toilet, jangan jadikan usia sebagai patokan. Perhatikan enam tanda penting ini, kata Elissa Levine, MD, dokter anak dari Charlotte, North Carolina. (Namun tetap membantu jika Anda tahu bahwa anak perempuan umumnya siap belajar ke toilet sendiri sekitar usia 2½ tahun dan anak laki-laki pada usia 3 tahun.)
  • Anak menunjukkan ketertarikan pada aktivitas di toilet. Misalnya, dia mengikuti Anda ke kemar kecil atau ingin menyiram kloset.
  • Dia memberitahu Anda jika ingin buang air besar (BAB) atau kecil, atau Anda bisa membaca bahasa tubuh, gumaman, atau ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa si kecil hendak pergi ke kamar kecil.
  • Dia ingin mengganti celana setelah buang air besar.
  • Dia buang air dengan teratur dan lancar.
  • Anda punya cukup waktu dan tenaga untuk mengajari dan menjalani proses panjang, dan terkadang membuat Anda kehilangan kesabaran.
  • Tidak ada hajatan besar di dalam keluarga, seperti kehadiran bayi baru atau kepindahan rumah.

Persiapan
  • Sebelum mulai “latihan resmi”, lakukan pemanasan dengan kiat dari penasihat Parents, Ari Brown, MD, dokter anak dan co-author Toddler 411.
  • Jelaskan seputar rutinitas ke kamar kecil dengan bahasa yang positif dan mudah dimengerti anak. Saat mengganti popok, Anda bisa mengatakan, “Saat makan atau minum, tubuh kita mengambil yang dibutuhkan dan yang tidak terpakai dibuang lewat BAB atau pipis. Seperti tempat sampah.”
  • Jadikan diri Anda sebagai contoh. Biarkan anak melihat Anda menggunakan kloset. Meskipun terlihat canggung, sesekali ayah bisa duduk di kloset saat buang air kecil demi menyederhanakan penjelasan kepada si kecil.
  • Praktikkan seolah-olah boneka kesayangannya pergi ke toilet. Melihat “temannya” menjalani ritual ke toilet dalam suasana santai dan menyenangkan, bisa membebaskan anak dari rasa cemas.
  • Latihan mematuhi jadwal. Biasakan ke toilet sebelum mandi pagi dan sebelum tidur malam. Tapi jangan terburu-buru ingin mencapai sukses. Belajar menepati jadwal sejak dini bisa menghemat tenaga Anda sehingga tidak perlu memberi perintah saat latihan dimulai kelak.

Agar Anda Lebih Tenang
  • Gulung karpet kesayangan Anda.
  • Yakinkan diri bahwa “kecelakaan” pasti terjadi.
  • Agar Anda lebih berkonsentrasi pada minggu-minggu awal, atur waktu bermain secara berkala untuk anak Anda yang lebih dewasa.
  • Lihat proses ini sebagai kesempatan merekatkan hubungan ibu-anak, bukan target yang harus dicapai dalam waktu singkat.
  • Hentikan latihan sejenak saat kesabaran Anda mulai menipis. Jika Anda sudah lebih tenang, lakukan hal sederhana terlebih dulu, seperti menyiram kloset. Hal ini membuat Anda dan anak isa menikmati kesuksesan.

Jika Terjadi “Kecelakaan”

  • Sembunyikan kekecewaan Anda.
  • Jangan permalukan anak Anda.
  • Gunakan intonasi suara yang netral untuk menandai kecelakaan dan akhiri dengan kalimat pemompa semangat. Sebagai contoh: “Ups, Adik pipis di lantai. Kita bersihkan yuk! Lain kali, Mama harap Adik bisa sampai di toilet tepat waktu.”
  • Jangan menyusahkan anak dengan memakaikan popok.
  • Buang BAB yang tercecer di lantai ke dalam kloset sehingga anak mempelajari hubungannya.
  • Hentikan latihan jika si kecil mengalami “kecelakaan” berulang-ulang.
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Cover


berlangganan

EDISI CETAK 2009
EDISI CETAK 2008
EDISI CETAK 2007

Caught On Camera

audrey.jpg
Charissa.jpg

© Parents Indonesia
Mahaka Media | All Rights Reserved