Saya baru selesai menyusui putra saya yang masih bayi di ruang keluarga ketika tiba-tiba saya melihat kucing liar, menyelinap masuk ke ruang tamu. Secara refleks, saya kejar hingga ke teras rumah. Tiba-tiba ada tukang sampah lewat, dia menatap saya tanpa berkedip. Saat itu, saya menyadari bahwa saya lupa mengancingkan baju!... Pembaca PARENTS berbagi kisah yang paling memalukan.
Eksibisionis? Saya baru selesai menyusui putra saya yang masih bayi di ruang keluarga ketika tiba-tiba saya melihat kucing liar, menyelinap masuk ke ruang tamu. Secara refleks, saya kejar hingga ke teras rumah. Tiba-tiba ada tukang sampah lewat, dia menatap saya tanpa berkedip. Saat itu, saya menyadari bahwa saya lupa mengancingkan baju! Jadi, saya baru saja berlari sambil memamerkan sebelah bra (khusus untuk menyusui) yang belum terpasang dengan benar. Adinda Ayu; Jagakarsa, Jakarta.
Yang Terlupakan Saya sedang berkendara berduaan dengan putri saya, Anita, 1 tahun, yang duduk manis di car seat. Pengendara motor dan orang di dalam mobil yang melaju di samping kami, serta orang-orang di pinggir jalan, tampak antusias menunjuk dan melambaikan tangan ke kami. Ketika saya menepi untuk mengisi bensin, saya baru mengerti bahwa ternyata saya telah menyetir sejauh kira-kira 5 kilometer dengan membawa tas bayi berisi popok dan botol susu di atap mobil! Yang menakjubkan, tas itu tidak jatuh. Maria Prisilla; Bandung.
Berjemur ala Bayi Saat itu musim liburan, tapi saya dan suami tidak bepergian karena enggan meninggalkan putra kami yang baru lahir. Untuk membuat suasana liburan tetap terasa, saya iseng memakai losion tanning yang membuat kulit menjadi kecoklatan tanpa harus berjemur. Tak lama kemudian, bayi saya terbangun. Saya segera menggendong dan menidurkannya kembali. Esok harinya, betapa kaget saya dan suami melihat pipi dan lengan putra kami belang-belang kecoklatan. Rupanya, ia terkena losion! Kulit coklatnya bertahan berhari-hari, bahkan saat ibu mertua datang berkunjung. Duh, malunya! Sianny Handoko; Surabaya.
Stiker keren Saat libur sekolah, saya mengajak putra pertama Danar, 5 tahun, ke superstore. Saat itu sedang diadakan program peduli konsumen. Di pintu masuk, para pegawai toko membagi-bagikan stiker berwarna mencolok bergambar muka tersenyum kepada setiap orang yang lewat. Tiba-tiba, seorang bapak mencolek lenganku dan berkata bahwa saya memiliki ‘muka tersenyum’ di bagian belakang celana saya. Ternyata, Danar menempelkan stiker tersebut di celana saya dan saya telah berkeliling di toko selama 40 menit. Sejak itu, saya mengajari Danar untuk selalu menyerahkan kepada saya apapun yang ia terima dari orang lain saat di tempat umum. Firmigya; Denpasar, Bali
Tangis bayi Suami saya bertugas menidurkan putra kami yang baru lahir. Ia membawanya ke sofa ruang keluarga, sementara saya memanfaatkan waktu tidur malam. Beberapa jam kemudian, saya mendengar tangis bayi dari ruang keluarga, secepat kilat saya berlari panik mencari ke sekeliling ruangan. Dalam kebingungan, saya bahkan berusaha merobek jok sofa karena khawatir dia mungkin terjepit di antara sofa. Akhirnya, saya menemukan sumber bunyi itu: monitor bayi yang terjatuh di sela-sela sofa. Jadi, setelah Alex tertidur, suami saya menaruhnya kembali di keranjang bayi dan saya, dengan bodohnya, malah berlari ke ruang keluarga. Farida Haryoko; Pejaten, Jakarta.
Selamat Malam, Sayang! Kantor saya hendak mengadakan acara penting dan kami harus lembur bersama bos. Beberapa rekan kerja, bahkan komisaris perusahaan yang terjun langsung mengawasi, masih berada di kantor. Karena si kecil sedang flu, saya meminta izin pulang lebih dulu. Sambil berjalan ke arah pintu, saya melambaikan tangan dan berkata, “Selamat tidur sayang” seperti yang biasa saya katakan kepada putri saya sebelum ia tidur. Semua yang ada di ruangan tertawa terbahak-bahak, termasuk Pak komisaris. Anita; Jakarta.
Selamat dari Situasi Memalukan
Tidak bisa dipungkiri, hampir semua ibu pernah merasa malu karena kelalaian yang dilakukannya. Tidak ada yang salah dengan hal ini, Anda tidak perlu mengurung diri atau menyembunyikan wajah. Berbanggalah menjadi ibu dan jadikan pengalaman ini sebagai kenangan lucu yang bisa Anda ceritakan saat si kecil dewasa.
Cara terbaik menghadapi saat-saat yang memalukan: Resep terbaik untuk menyelamatkan muka setelah mengalami kejadian memalukan adalah ikut menertawakannya. Orang di sekitar Anda akan menganggap Anda tidak mempermasalahkan dan Anda baik-baik saja menghadapinya (meskipun mungkin sebenarnya tidak demikian). - Mengganti topik pembicaraan.
Segera ganti pembicaraan dengan mengangkat tema seru hari ini. Misalnya, tadi pagi Anda membaca tajuk utama di koran mengenai kebakaran yang menelan korban jiwa, atau berita perceraian selebriti terkini. - Mengubahnya menjadi suatu lelucon.
Di acara kumpul keluarga mertua, tiba-tiba anak saya, 16 bulan, mengangkat baju saya untuk menyusu. Saya segera melontarkan lelucon mengenai kecepatan tangannya. Semua orang menganggap lucu kelakuannya dan mereka lupa bahwa satu menit lalu, bra saya baru saja terekspos.Meski kejadian ini membuat muka Anda bersemu merah, dalam beberapa hari orang sudah melupakannya. Jadi, jangan terlalu dipikirkan.
|
|
|
Archive
|
|
|