Looking for U.S.A version of PARENTS.com? Click Here


Bergabung bersama kami di facebook
baby mom ad

Kebal Kuman
Dalam beberapa kasus, sakit merupakan bagian dari tumbuh kembang seorang anak. Bukankah kita semua terlahir ke dunia dengan sistem kekebalan tubuh yang belum matang? Lambat laun, anak mematangkan sistem kekebalan tubuhnya dengan memerangi datangnya virus, kuman, maupun organisme lain yang seolah datang silih berganti. Itulah sebabnya banyak dokter anak beranggapan bahwa enam sampai delapan kali pilek, beberapa kali mengalami flu atau infeksi telinga ringan dalam setahun adalah hal normal. Akan tetapi, ada kebiasaan-kebiasaan sehat yang bisa Anda adopsi demi meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak. Kami perinci tujuh cara sederhana yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh si kecil.


1. Sajikan lebih banyak buah dan sayur. Wortel, kacang polong, jeruk dan stroberi mengandung fitonutrien (zat gizi nabati) yang bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh, seperti vitamin C dan karotenoid. Fitonutrien bisa meningkatkan produksi sel darah putih, yang bertugas melawan infeksi, serta interferon, yaitu antibodi yang melapisi permukaan sel dan berfungsi menghalangi virus masuk. Studi menunjukkan, konsumsi makanan kaya fitonutrien juga bisa melindungi anak dari penyakit-penyakitn kronik seperti kanker dan penyakit jantung di usia dewasa nanti. Cobalah untuk memenuhi kebutuhan anak terhadap lima porsi buah dan sayur setiap harinya (Satu porsi berarti dua sendok makan untuk batita dan 16 sendok makan untuk anak yang usianya lebih besar).

2. Tingkatkan jam tidur. Studi terhadap orang dewasa menunjukkan, kurang tidur bisa membuat Anda rentan terserang penyakit. Kurang tidur berarti mengurangi sel pembunuh alamiah, yakni senjata sistem kekebalan tubuh yang bertugas untuk menyerang mikroba dan sel kanker. Rupanya, hal itu juga berlaku pada anak-anak. Khususnya anak-anak yang dititipkan di TPA memiliki risiko kurang tidur. Sebab, semua aktivitas di TPA membuat mereka sulit tidur siang. Lalu, berapa banyak jam tidur yang dibutuhkan anak? Seorang bayi yang baru lahir butuh 18 jam tidur dalam sehari. Batita membutuhkan 12-13 jam, sementara balita butuh 10 jam. Jika tak mau atau tak bisa tidur siang, cobalah untuk menidurkan anak lebih cepat di malam hari.

3. Berikan ASI. ASI mengandung banyak sekali zat yang berguna dalam sistem kekebalan tubuh. ASI juga mengandung antibodi. Memberi ASI berarti melindungi bayi dari infeksi telinga, alergi, diare, pneumonia, meningitis, infeksi saluran kemih maupun sindroma kematian mendadak. Studi menunjukkan, ASI juga bisa meningkatkan kekuatan otak serta melindungi bayi dari diabetes tipe bergantung pada insulin, penyakit Chron (radang pada saluran pencernaan), maupun jenis-jenis kanker tertentu yang bisa muncul di usia dewasa. Kolostrum, yakni cairan kuning muda yang mengalir dari payudara selama beberapa hari pertama setelah melahirkan, kaya akan antibodi dan berguna memerangi penyakit. Anda diimbau untuk memberikan ASI selama 2 tahun. Jika tidak memungkinkan, setidaknya coba beri ASI eksklusif selama enam bulan pertama demi memenuhi kebutuhan bayi terhadap sistem kekebalan tubuh.

4. Berolahraga sekeluarga. Riset membuktikan, olahraga meningkatkan sejumlah sel pembunuh alamiah dalam tubuh orang dewasa. Dan aktivitas reguler juga memberikan keuntungan yang sama bagi anak-anak. Agar anak-anak bersedia menjadikan olahraga sebagai suatu kebiasaan yang menyehatkan sekaligus mengasikkan, jadilah sosok panutan. Daripada menyuruh mereka untuk bermain di luar, mengapa tidak berolahraga bersama pada akhir pekan? Lakukan aktivitas yang menyenangkan seperti bersepeda pagi, berenang, bersepatu roda, bermain sepakbola, bulutangkis, ataupun basket.

5. Menghalangi penyebaran kuman. Memerangi kuman tidak secara otomatis meningkatkan kekebalan tubuh tapi inilah cara mengurangi tekanan dalam sistem kekebalan tubuh anak. Pastikan anak Anda kerap mencuci tangan dengan sabun. Anda harus memberi perhatian lebih terhadap kebersihan mereka sebelum maupun sesudah makan, bermain di luar rumah, memegang hewan peliharaan, membuang ingus, buang air, ataupun pulang ke rumah dari TPA. Saat Anda keluar rumah, bawalah tisu pembersih sekali pakai. Untuk membantu anak terbiasa mencuci tangan di rumah, biarkan mereka memilih handuk tangan dengan warna kesukaan, sabun aneka bentuk, warna, maupun aroma.
Strategi lain dalam menghalangi penyebaran kuman adalah dengan membuang sikat gigi anak saat dia jatuh sakit. Dengan begitu anak tidak akan terserang virus pilek yang sama sebanyak dua kali. Akan tetapi, virus bisa berpindah dari satu sikat gigi ke sikat gigi lain sehingga dapat menulari anggota keluarga yang lain. Namun, jika sakit yang diderita anak adalah infeksi bakterial, seperti infeksi tenggorokan, maka dia bisa terinfeksi kembali oleh kuman yang sama. Dalam kasus ini, membuang sikat giginya akan melindungi anak Anda sekaligus anggota keluarga yang lain.

6. Singkirkan si perokok. Jika Anda atau suami Anda merokok, berhentilah sekarang juga! Rokok mengandung lebih dari 4.000 racun. Kebanyakan zat racun itu bisa mengganggu atau membunuh sel yang ada di dalam tubuh. Anak-anak akan lebih rentan terhadap efek berbahaya dari posisi perokok pasif dibandingkan orang dewasa. Sebab, anak-anak bernapas lebih cepat. Selain itu, sistem detoksifikasi alamiahnya belum matang. Perokok pasif meningkatkan risiko anak terhadap kematian mendadak (SIDS), bronkitis, infeksi telinga, dan asma. Perokok pasif juga akan memengaruhi tingkat intelegensia maupun perkembangan saraf. Jika Anda benar-benar tidak mampu berhenti merokok, Anda bisa mengurangi risiko kesehatan anak dengan merokok hanya saat berada di luar rumah.

7. Berhentilah menekan dokter anak keluarga. Memburu-buru dokter anak Anda untuk menulis resep antibiotik kapan pun si kecil menderita pilek atau radang tenggorokan adalah ide yang buruk. Antibiotik hanya bisa menangani penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Sementara kebanyakan penyakit yang diderita di masa kecil disebabkan oleh virus.  Meskipun demikian, studi menunjukkan, banyak dokter anak yang terpaksa meresepkan antibiotik karena orang tua memaksa. Padahal, pada kenyataannya, penggunaan antibiotik malah sukses membentuk tipe bakteri yang imun terhadap antibiotik. Infeksi telinga ringan lebih sulit diobati jika disebabkan oleh bakteri yang ‘keras kepala’ dan tidak merespons pengobatan standar. Kapanpun dokter anak Anda mau meresepkan antibiotik, pastikan dia tidak melakukannya hanya karena dia berpikir Anda ingin dia berbuat begitu.
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Cover


berlangganan

EDISI CETAK 2009
EDISI CETAK 2008
EDISI CETAK 2007

Caught On Camera

albert.jpg
Sandra.jpg

© Parents Indonesia
Mahaka Media | All Rights Reserved