Meningitis tergolong penyakit serius dan bisa mengakibatkan kematian. Penderita meningitis yang bertahan hidup akan menderita kerusakan otak sehingga lumpuh, tuli, epilepsi, retardasi mental.
Penyakit meningitis dan pneumonia telah membunuh jutaan balita di seluruh dunia. Data WHO menunjukkan bahwa dari sekitar 1,8 juta kematian anak balita di seluruh dunia setiap tahun, lebih dari 700.000 kematian anak terjadi di negara kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.
Ada tiga bakteri penyebab meningitis, yaitu Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae tipe b, dan Niesseria meningitides. Dari ketiga bakteri itu, Streptococcus pneumoniae (pneumokokus) adalah bakteri yang paling sering menyerang bayi di bawah usia 2 tahun. Masa inkubasi (waktu yang diperlukan untuk menimbulkan gejala penyakit) kuman tersebut sangat pendek yakni sekitar 24 jam.
“Meningitis yg disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan meningitis penyebab lain karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak yg disebabkan oleh bakteri maupun produk bakteri lebih berat,” kata Dr. Setyo Handryastuti, SpA, Divisi Neurologi Departemen Kesehatan Anak RSCM-FKUI.
Gejala Meningitis
Bayi
- Demam
- Kejang pada tengkuk
- Rewel/gelisah
- Susah makan
- Menangis terus-menerus
- Lemah
- Intensitas interaksi berkurang
- Ubun-ubun membenjol
Anak
- Demam
- Kejang pada tengkuk
- Sakit kepala
- Mual
- Bingung/disorientasi
- Serangan mendadak
- Tidak suka cahaya terang (fotofobia)
- Ruam di sekujur tubuh
Penularan dan Penanganan Bakteri pneumokokus adalah salah satu penyebab meningitis terparah. Penelitian yang diungkapkan konsultan penyakit menular dari Leicester Royal Infirmary, Inggris, Dr Martin Wiselka, menunjukkan bahwa 20-30 persen pasien meninggal dunia akibat penyakit tersebut, hanya dalam waktu 48 jam. Angka kematian terbanyak pada bayi dan orang lanjut usia. Pasien yang terlanjur koma ketika dibawa ke rumah sakit, sulit untuk bisa bertahan hidup. Infeksi pneumokokus lebih sering terjadi pada anak dibanding orang dewasa karena tubuh anak belum bisa memproduksi antibodi yang dapat melawan bakteri tersebut. Sebanyak 50 persen pasien meningitis yang berhasil sembuh biasanya menderita kerusakan otak permanen yang berdampak pada kehilangan pendengaran, kelumpuhan, atau keterbelakangan mental. Komplikasi penyakit tersebut akan timbul secara perlahan dan semakin parah setelah beberapa bulan.
“Semua bayi sejak usia 1 tahun sudah mempunyai bakteri pneumokokus yang hidup di tenggorok,” kata Dr. Aman B. Pulungan, SpA (K), konsultan endokrinologi anak dari Klinik Anakku Cinere, Jakarta. Namun, keberadaan bakteri tersebut tidak selalu dapat diartikan seorang anak menderita infeksi pneumokokus. Bakteri tersebut membawa dampak yang berbeda bagi setiap orang dan dari 90 jenis bakteri pneumokokus hanya sedikit yang bisa menyebabkan penyakit berbahaya. Penularan penyakit akibat bakteri pneumokokus terjadi melalui percikan ludah saat bersin, batuk, atau berbicara, dari penderita kepada orang sehat. Selain bayi dan lansia, mereka yang rentan terjangkit infeksi pneumokokus adalah seseorang yang sedang dirawat di RS atau tinggal serumah dengan banyak orang, kerap berinteraksi dengan penderita, dan mempunyai kelainan daya tahan tubuh seperti terinfeksi virus HIV.
Seseorang bisa diduga terserang meningitis jika mempunyai riwayat pneumonia atau infeksi telinga. Dalam beberapa kasus, pengambilan sampel cairan otak diperlukan untuk mendiagnosa meningitis. Pada orang sehat, cairan otak tampak bening. Sementara pada penderita pneumococcal meningitis warna cairan terlihat keruh dan tes laboratorium mengindikasikan banyak bakteri dan jumlah sel darah putih yang berlebih.
Penderita meningitis perlu mendapat antibiotik sesegera mungkin. Perawatan umumnya dilakukan selama 10-14 hari. Pengobatan panjang itu dianggap perlu untuk mencegah komplikasi atau mencegah infeksi datang kembali. Pada kasus yang dianggap berat, diperlukan perawatan intensif di UGD dan ketersediaan ventilasi udara untuk membantu pernapasan.
Pencegahan Untuk mencegah IPD, termasuk meningitis, Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan vaksin konjugat pneumokokus. Vaksin tersebut dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak yang berusia 2 bulan hingga 9 tahun. Pemberian vaksin paling baik dilakukan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 12 – 15 bulan. “Data yang dikeluarkan Centers for Disease Control and Prevention pada 2005 menyatakan infeksi pneumokokus berkurang hingga 97 persen dalam 6 tahun setelah pemberian vaksin,” kata Dr. Aman. Selain itu, vaksin juga mengurangi jumlah anak yang menjadi pembawa bakteri penyakit tenggorok serta mengurangi penyebaran IPD dari anak ke orang dewasa.
Vaksin konjugat pneumokokus juga hanya menimbulkan efek samping yang ringan seperti kulit kemerahan, sedikit bengkak dan nyeri pada daerah sekitar suntikan. Gejala umum setelah pemberian vaksin seperti demam, mengantuk, rewel, nafsu makan berkurang, jarang ditemukan pada bayi. “Vaksinasi pneumokokus boleh diberikan bersamaan dengan vaksin lain, seperti vaksin DTP/HiB, DtaP, Hib, IPV, Hepatitis B, MMR, dan Varicella,” kata Dr. Aman. |