Seputar Gangguan Kehamilan

Seputar Gangguan Kehamilan

Mood Swing

“Kehamilan pertama saya bertepatan dengan bencana tsunami Aceh pada akhir 2004. Semua stasiun televisi menayangkan berita duka. Saya selalu menonton karena ingin tahu beritanya, tapi saya tak bisa membendung air mata. Perasaan saya yang mudah terharu, semakin menjadi-jadi saat hamil. Akibatnya, sepanjang hari saya sering menangis meskipun telah beraktivitas normal. Setelah rasa haru hilang, mendadak saya semangat sekali membereskan rumah. Saya ingin rumah tertata rapi demi menyambut si bayi.

Perilaku moody tidak berhenti sampai di situ. Mendadak saya tidak menyukai parfum dan sabun yang selama ini saya gunakan. Mencium aroma makanan-makanan favorit juga membuat saya mual. Berkat kesabaran suami dan dukungan teman-teman kantor, mood swing ini tidak menjadi parah dan perlahan hilang saat memasuki trimester kedua. Saya bisa melanjutkan kehamilan dengan happy.”

Murtiyarini; Bogor, Jawa Barat.

Sulit Tidur

“Ketika memasuki trimester terakhir, saat bayi di dalam kandungan semakin besar dan semakin aktif, saya sulit beristirahat di malam hari. Itulah keluhan terberat yang saya rasakan semasa hamil. Cara saya mengatasinya, setiap sebelum tidur saya dan suami sering berbicara kepada sang bayi, seperti “Dedek sayang, ini sudah malam. Ayah dan ibu istirahat dulu, ya.” Saya dan suami terus membisikan kalimat itu setiap hari menjelang tidur. Alhamdulillah, saya tidak lagi merasa susah tidur. That’s the miracle of a baby! Ternyata meskipun masih di dalam kandungan, bayi sudah bisa berkomunikasi dengan orang tuanya.

Setelah melahirkan, saya baru mengetahui bahwa cara saya dalam mengatasi keluhan itu merupakan bentuk hypnoparenting sejak dalam kandungan. Jadi menurut saya, untuk mengatasi semua keluhan selama hamil cukup dengan melakukan hypnoparenting karena itu adalah cara yang paling pas untuk saya.”

Dea Revania; Tangerang, Banten.

Mual dan Kram

“Saat ini saya sedang hamil anak kedua dan saya masih bekerja sehingga saya harus tetap fit walaupun sedang hamil. Untuk menghindari segala macam keluhan, apalagi di usia saya yang sudah 35 tahun, pada awal kehamilan saya berusaha menghindari makanan yg mengandung gas tinggi untuk mengindari mual. Saya berusaha agar keluhan yang pernah saya alami pada kehamilan pertama lima tahun lalu tidak terjadi lagi. Alhasil selama kehamilan anak kedua ini saya hanya mengalami muntah satu kali saja.

Kemudian untuk menghindari kram pada kaki pada saat tidur, sebelum tidur saya merendam kaki di air hangat yang ditambah garam dan mengganjal kaki dengan bantal saat tidur. Pada  kehamilan kedua ini, saya tidak mengalami kram dan bengkak pada kaki. Sementara untuk menghindari guratan-guratan di perut, saya rajin menggunakan baby oil dan krim perut, hasilnya bisa dilihat di foto: Perut saya tetap mulus dan terjaga.”

Gaby Ballo; Jakarta.

Mual

“Selama hamil saya tinggal di Palembang, mengikuti suami sedang dinas. Saya dan suami tinggal di rumah kost agar saya punya teman saat ditinggal suami bekerja. Selama hamil, saya menjadi anti dengan masakan Palembang, seperti pempek, tekwan, dan pindang. Karena penjaga kost kami sepasang suami istri yang asli Palembang, mereka selalu memasak menu Palembang. Akhirnya setiap mereka mau masak, saya dengan sigap masuk kamar, mengkunci pintu rapat-rapat, dan menutup jendela supaya aroma masakan tidak bisa masuk ke kamar saya sehingga saya tidak mual. Dan untuk melupakan rasa mual, saya menyibukkan diri dengan membuat jahitan nama suami di pakaian dalamnya agar tidak tertukar dengan penghuni kost yang lain.”

Indrawati; Palembang, Sumatra Selatan.

Mual Muntah

“Di trimester pertama kehamilan, saya mengalami mual muntah yang sangat hebat. Sampai saya harus dirawat di klinik karena hiperemesis. Untuk menghindari kejadian itu terulang lagi, saya banyak mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak memicu mual, seperti air putih hangat. Untuk mencukupi asupan makanan saya dan calon bayi, saya tetap mengonsumsi vitamin dari dokter dan makanan yang saya inginkan. Jika saya dipaksa makan makanan yang tidak saya sukai, saya bisa muntah. Hal itu berlangsung selama tiga bulan.

Saya juga sering mengalami batuk semasa hamil. Karena saya tidak suka minum obat, saya biarkan batuk sembuh dengan istirahat yang cukup, minum minuman yang cenderung panas, seperti teh dengan sedikit gula, dan banyak makan buah-buahan, misalnya jeruk dan stroberi. Rasa lelah yang saya alami semasa hamil, saya atasi dengan berbaring di tempat tidur atau di sofa. Pijat kecil dan pelan di sekitar pundak dan betis, bagi saya cukup mengobati rasa capek dan pegal.”

Delima Yulindawati; Depok, Jawa Barat.

Bagikan cerita Anda kepada seluruh pembaca Parents Indonesia dengan menjadi anggota komunitas kami di facebook Majalah Parents Indonesia.